Psikologi Industri ; Kepuasan Kerja
Oleh:
Nurwahidah
K11114048
Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Hasanuddin
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Karyawan
dan perusahaan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Karyawan memegang
peran utama dalam menjalankan roda kehidupan perusahaan. Apabila karyawan
memiliki produktivitas dan motivasi kerja yang tinggi, maka laju roda pun akan
berjalan kencang, yang akhirnya akan menghasilkan kinerja dan pencapaian yang
baik bagi perusahaan. Di sisi lain, bagaimana mungkin roda perusahaan berjalan
baik, kalau karyawannya bekerja tidak produktif, artinya karyawan tidak memiliki
semangat kerja yang tinggi, tidak ulet dalam bekerja dan memiliki moril yang
rendah.
Kepuasan kerja
merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk mendapatkan hasil kerja
yang optimal. Ketika seorang merasakan kepuasan dalam bekerja tentunya ia akan
berupaya semaksimal mungkin dengan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk
menyelesaikan tugas pekerjaannya. Dengan demikian produktivitas dan hasil kerja
pegawai akan meningkat secara optimal. Untuk mencapai tingkat kepuasan kerja
yang maksimal dalam setiap pelaksanaan tugas audit, auditor kantor akuntan
publik akan selalu menghadapi faktor-faktor yang diperkirakan dapat
mempengaruhi kepuasan kerja. Faktor-faktor tersebut dapat berupa konflik
pekerjaan-keluarga.
Kepuasan kerja merupakan sikap umum seorang
individu terhadap pekerjaannya, seorang dengan tingkat kepuasan kerja tinggi
menunjukkan sikap yang positif terhadap pekerjaan itu, seorang yang tidak puas
dengan pekerjaannya menunjukkan sikap negatif terhadap pekerjaan itu. Individu
yang bekerja pada suatu lingkungan atau institusi akan dipengaruhi oleh
lingkungan tempatnya bekerja. Lingkungan tempatnya bekerja berupa budaya
organisasi tempat bekerja yang akan berbeda-beda satu tempat dengan yang lain
Individu harus menyesuikan perbuatannya dengan budaya organisasi tempatnya
bekerja sebagai sebuah konsekuensi logis. Budaya organisasi dapat mempengaruhi
kinerja individu didalamnya dan mempengaruhi kepuasan kerja individu.
Salah satu
indikator penentu kepuasan kerja yang tidak dapat di abaikan adalah komitmen
organisasi. Komitmen banyak digunakan sebagai variabel pemoderasi hubungan
antara partipasi anggaran dan kinerja menejerial, tetapi 3 penelitian ini akan
mengauji secara empiris apakah komitmen organisasi mempengaruhi kepuasan kerja
seseorang. Komitmen organisasi yang tinggi akan menjadikan seorang individu
merasa memiliki organisasi dan ingin selalu memajukan organisasi sehingga
kepuasan kerja akan lebih tinggi.Individu yang tidak memiliki komitmen
organisasi cenderung bekerja apa adanya atau minimalis tanpa upaya inovatif dan
kreatif bagaimana mencapai tujuan organisasi. Komitmen organisasi yang tinggi
cenderung membuat individu memiliki
semangat untuk memajukan organisasi dan meningkatkan kepuasan kerja individu
dalam organisasi.
Biasanya orang akan merasa puas atas kerja yang
telah atau sedang ia jalankan, apabila apa yang ia kerjakan telah memenuhi
harapan salah satu tujuannya bekerja. Apabila seseorang mendambakan sesuatu,
berarti ia memiliki suatu harapan dengan demikian ia akan termotivasi
melakukan tindakan ke arah pencapaian harapan tersebut. ciri perilaku
pekerja yang puas adalah mereka mempunyai motivasi untuk berkerja yang tinggi,
mereka lebih senang dalam melakukan pekerjaannya, sedangkan ciri pekerja yang
kurang puas adalah mereka yang malas berangkat ke tempat bekerja dan malas
dengan pekerjaan dan tidak puas. Tingkah laku karyawan yang malas tentunya akan menimbulkan
masalah bagi perusahaan berupa tingkat absensi yang tinggi, keterlambatan kerja
dan pelanggaran disiplin yang lainnya, sebaliknya tingkah laku karyawan yang
merasa puas akan lebih menguntungkan bagi perusahaan.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa itu Kepuasan kerja ?
2.
Apa Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja ?
3.
Apa saja aspek-aspek kepuasan kerja ?
4.
Bagaimana hubungan antara produktivitas kerja dengan
kepuasan kerja?
5.
Bagaimana cara menghindari ketidakpuasan kerja ?
6.
Bagaimana Karyawan Dapat
Mengungkapkan Ketidakpuasan ?
C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui kepuasan kerja
2.
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan
kerja
3.
Untuk mengetahui aspek-aspek kepuasan kerja
4.
Untuk mengetahui hubungan antara produktivitas kerja
dengan kepuasan kerja
5.
Untuk mengetahui cara menghindari ketidakpuasan kerja
6.
Untuk mengetahui Bagaimana
Karyawan Dapat Mengungkapkan Ketidakpuasan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Kepuasan Kerja
1.
Pengertian dan Fungsi Kepuasan Kerja
Setiap orang yang bekerja mengharapkan memperoleh kepuasan dari tempatnya
bekerja. Pada dasarnya kepuasan kerja merupakan hal yang bersifat individual
karena setiap individu akan memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai
dengan nilai-nilai yang berlaku dalam diri setiap individu. Semakin banyak
aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan individu, maka semakin
tinggi tingkat kepuasan yang dirasakan.
Kepuasan kerja merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi
kepuasan hidup, karena sebagian besar waktu manusia dihabiskan di tempat kerja.
Berikut ini beberapa pengertian kepuasan kerja yang diambil dari beberapa
sumber:
Ø
Kondisi menyenangkan atau secara
emosional positif yang berasal dari penilaian seseorang atas pekerjaannya atau pengalaman
kerjanya (Setiawan dan Ghozali, 2006:159).
Ø
Menurut Jewell dan Siegall (1998)
kepuasan kerja adalah sikap yang timbul berdasarkan penilaian terhadap situasi
kerja. Yang merupakan generalisasi sikap-sikap terhadap pekerjaannya yang
bermacam-macam. Kepuasan kerja erat kaitannya dengan keadaan emosional yang
menyenangkan atau tidak menyenangkan menurut cara karyawan memandang pekerjaan
mereka.
Ø
Keadaan emosional yang
menyenangkan atau tidak menyenangkan dengan mana para karyawan memandang
pekerjaan mereka. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap
pekerjaannya (Handoko, 2001:193).
Ø
Hasil dari persepsi karyawan
mengenai seberapa baik pekerjaan mereka memberikan hal yang dinilai penting
(Luthans, 2006:243).
kepuasan kerja adalah sikap yang timbul berdasarkan
penilaian terhadap situasi kerja. Yang merupakan generalisasi sikap-sikap
terhadap pekerjaannya yang bermacam-macam. Kepuasan kerja erat kaitannya dengan
keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan menurut cara
karyawan memandang pekerjaan mereka.
2.
Fungsi Kepuasan kerja
Ø Untuk
meningkatkan disiplin karyawan dalam menjalankan tugasnya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Karyawan akan datang tepat waktu dan akan menyelesaikan tugasnya sesuai dengan
waktu yang telah ditentukan.
Ø Untuk
meningkatkan semangat kerja karyawan dan loyalitas karyawan terhadap
perusahaan. Kepuasan kerja staff merupakan faktor yang diyakini dapat mendorong
dan mempengaruhi semangat kerja staff. Keberhasilan seorang staff dalam
bekerja, akan secara langsung mempengaruhi prestasi kerjanya di kemudian hari.
Ø Menciptakan
keadaan positif dalam lingkungan kerja
3. Pengaruh Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja
pada dasarnya merupakan hal yang
bersifat individual, artinya tingkat kepuasan kerja dari masing-masing individu
berbeda satu dengan yang lainnya sesuai dengan sisteam yang berlaku pada
dirinya. Karyawan yang terpenuhi kebutuhannya tersebut diharapkan merasa puas
dengan apa yang mereka dapatkan dari perusahaan dan bekerja dengan baik
sehingga dapat mengakibatkan produktivitas kerja, mengurangi tingkat absensi
serta perputaran tenaga kerja.
Winardi (1992) mengungkapkan Pengaruh
Kepuasan Kerja Antara Lain :
a.
Peningkatan Produk
Seorang karyawan yang merasakan kepuasan dalam kerja akan termotivasi untuk
mencapai hasil produk sebanyak mungkin, secepat mungkin, sebaik mungkin. Hal
ini pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas kerja yang sangat berguna
bagi perkembangan organisasi.
b.
Absensi Berkurang
Seorang karyawan yang mersakan kepuasan dalam kerja merasa bertenaggung
jawab terhadap tugas dan rekan kerjanya yang lain. Karyawan menjadi lebih rajin
untuk masuk kerja dan tingkat absensi makin berkurang.
c.
Kecelakaan kerja dapat
diminimalisir
Seorang karyawan yang merasakan kepuasan kerja akan lebih mencintai tugas
yang dihadapinya. Karyawan tersebut akan berlatih untuk hati-hati, cermat,
tanggung jawab, sehingga kemungkinan terjadiny kecelakaan kerja dapat
diminimalisir.
d.
Intansi turn over berkurang
Seorang karyawan yang merasakan kepuasan kerja akan merasa diri sebagian
bagian dari organissi tempat karyawan tersebut bekerja. Rasa saling memiliki
ini akan memungkinkan intensi turn over
bagi karyawan menjadi semakin berkurang.
B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Kepuasan Kerja
1.
Faktor-faktor yang memberikan
kepuasan menurut As'ad (1999) adalah:
a. Faktor individual, meliputi umur, kesehatan,
watak, dan harapan;
b. Faktor sosial, meliputi hubungan kekeluargaan,
pandangan masyarakat, kesempatan bereaksi, kegiatan perserikatan pekerja,
kebebasan berpolitik, dan hubungan kemasyarakatan;
c. Faktor utama dalam pekerjaan, meliputi
upah, pengawasan, ketentraman kerja, kondisi kerja, dan kesempatan untuk maju.
2.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Kepuasan Kerja Adalah (Sutrisno, 2009: 82-84)
a. Kesempatan untuk maju. Dalam hal ini, ada tidaknya kesempatan untuk
memperoleh pengalaman dan peningkatan kemampuan selama kerja.
b. Keamanan kerja. Faktor ini disebut sebagai penunjang kepuasan kerja,
baik bagi karyawan. Keadaan yang aman sangat mempengaruhi perasaan karyawan
selama kerja.
c. Gaji. Gaji lebih banyak menyebabkan ketidakpuasan, dan
jarang orang mengekspresikan kepuasan kerjanya dengan sejumlah uang yang
diperolehnya.
d. Perusahaan dan manajemen. Perusahaan dan manajemen yang baik adalah yang
mampu memberikan situasi dan kondisi kerja yang stabil.
e. Pengawasan. Sekaligus atasannya. Supervisi yang buruk dapat
berakibat absensi dan turnover.
f. Faktor Intrinsik dari pekerjaan. Atribut yang
ada dalam pekerjaan mensyaratkan keterampilan tertentu. Sukar dan mudahnya
serta kebanggaan akan tugas dapat meningkatkan atau mengurangi kepuasan.
g. Kondisi kerja. Termasuk di sini kondisi kerja tempat, ventilasi,
penyiaran, kantin dan tempat parkir.
h. Aspek sosial dalam pekerjaan. Merupakan salah satu sikap yang sulit digambarkan
tetapi dipandang sebagai faktor yang menunjang puas atau tidak puas dalam
bekerja.
i.
Komunikasi. Komunikasi yang lancar antar karyawan dengan pihak manajemen banyak
dipakai alasan untuk menyukai jabatannya. Dalam hal ini adanya kesediaan pihak
atasan untuk mau mendengar, memahami dan mengakui pendapat ataupun prestasi
karyawannya sangat berperan dalam menimbulkan rasa puas terhadap kerja.
j.
Fasilitas. Fasilitas rumah sakit, cuti, dana pensiun, atau perumahan merupakan
standar suatu jabatan dan apabila dapat dipenuhi akan menimbulkan rasa puas.
3.
Pendapat yang lain dikemukan oleh
Ghiselli dan Brown, mengemukakan adanya lima faktor yang menimbulkan kepuasan
kerja, yaitu:
a. Kedudukan (posisi)
Umumnya manusia beranggapan bahwa seseorang yang bekerja pada pekerjaan
yang lebih tinggi akan merasa lebih puas daripada karyawan yang bekerja pada
pekerjaan yang lebih rendah. Pada beberapa penelitian menunjukkan bahwa hal
tersebut tidak selalu benar, tetapi justru perubahan dalam tingkat pekerjaanlah
yang mempengaruhi kepuasan kerja.
b. Pangkat (golongan)
Pada pekerjaan yang mendasarkan perbedaan tingkat (golongan), sehingga
pekerjaan tersebut memberikan kedudukan tertentu pada orang yang melakukannya.
Apabila ada kenaikan upah, maka sedikit banyaknya akan dianggap sebagai
kenaikan pangkat, dan kebanggaan terhadap kedudukan yang baru itu akan merubah
perilaku dan perasaannya.
c. Umur
Dinyatakan bahwa ada hubungan antara kepuasan kerja dengan umur karyawan.
Umur di antara 25 tahun sampai 34 tahun dan umur 40 sampai 45 tahun adalah
merupakan umur-umur yang bisa menimbulkan perasaan kurang puas terhadap
pekerjaan.
d. Jaminan finansial dan jaminan sosial
Masalah finansial dan jaminan sosial kebanyakan berpengaruh terhadap kepuasan kerja.
Masalah finansial dan jaminan sosial kebanyakan berpengaruh terhadap kepuasan kerja.
e. Mutu pengawasan
Hubungan antara karyawan dengan pihak pimpinan sangat penting artinya dalam menaikkan produktifitas kerja. Kepuasan karyawan dapat ditingkatkan melalui perhatian dan hubungan yang baik dari pimpinan kepada bawahan, sehingga karyawan akan merasa bahwa dirinya merupakan bagian yang penting dari organisasi kerja
Hubungan antara karyawan dengan pihak pimpinan sangat penting artinya dalam menaikkan produktifitas kerja. Kepuasan karyawan dapat ditingkatkan melalui perhatian dan hubungan yang baik dari pimpinan kepada bawahan, sehingga karyawan akan merasa bahwa dirinya merupakan bagian yang penting dari organisasi kerja
C. Aspek aspek Kepuasan kerja
1. Aspek Psikologis yang berhubungan dengan kejiwaan sdan minat, ketentraman kerja dan sikap
kerja, bakat dan ketrampilan dari karyawan.
2. Aspek social berhubungan dengan interaksi social baik antar sesame karyawan maupun
antar karyawan yang berbeda jenis kerja serta hubungan dengan anggota keluarga.
3. Aspek fisik berhungbungan dengan kondisi tubuhnya meliputi juga jenis pekerjaanya
pengaturan kerja, pengaturan waktu istirahat dan keadaan ruangan, kondisi
kesehatan dan umur.
4. Aspek Finasial berhubungan dengan jaminan ddan kesejatheraan yang melipti system besaran
gaji, jaminan social, tunjangan faislitas dan promosi.
D. Hubungan Antara Produktivitas
Kerja Dengan Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja menduduki tempat yang sangat penting dalam suatu proses
kerja. Dengan tercapainya kepuasan kerja, seseorang akan berusaha melakukan
tugas dengan sebaik-baiknya. Seorang akan lebih mencintai pekerjaan dan akan
tetap berusaha mempertahankan pekerjaannya bila orang tersebut memperoleh
kepuasan.
Hadi (1992) berpendapat bahwa yang terpenting dalam kancah pekerjaan adalah
kesehatan jasmani dan kepuasan kerja. Dalam dunia kerja kerpuasan kerja
karyawan haruslah menjadi suatu unsur yang mutlak dalam gerakan mempertinggi
efisiensi. Karyawan yanng meras aterpenuhi kepuasan kerjanya akan berusaha
semaksimal mungkin memberikan tenaganya kepada perusahaan. Bekerja dengan
girat, tekun dan penuh disiplin akan mempertinggi efisiensi kerja yang mana hal
tersebut erat hubungannya dalam menunjang kemajuan perusahaan.
Viteles (dalam Haslam 2004) mengemukakan pendapatnya bahwa para karyawan
yang didasari oleh kepuasan kerja yang tinggi adalah karyawan yang produktif.
Seorang tenaga kerja dinilai produktif jika dia mampu menhasilkan output atau
keluarng yang lebih banyak dari tenaga karja yang lain untuk satuan waktu yang
sama. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa seorang tenaga kerja mampu
menunjukkan atau menghasilkan produk yang sesuai dengan standar yang ditentukan
dalam satuan waktu yang lebih singkat bahkan melebihinya.
E. Cara Menghindari Ketidakpuasan Kerja
Kepuasan Kerja karyawan sangat dipengaruhi oleh berbagaio faktor, jika faktor pemuas ini tidak diperoleh oleh karyawan maka akan muncul ketidak puasan yang dapat memunculkan perilaku negatif karyawan, Untuk menghindari konsekuensi perilaku negatif dari ketidakpuasan karyawan, maka ada beberapa cara untuk menghindari ketidakpuasan kerja tersebut:
Kepuasan Kerja karyawan sangat dipengaruhi oleh berbagaio faktor, jika faktor pemuas ini tidak diperoleh oleh karyawan maka akan muncul ketidak puasan yang dapat memunculkan perilaku negatif karyawan, Untuk menghindari konsekuensi perilaku negatif dari ketidakpuasan karyawan, maka ada beberapa cara untuk menghindari ketidakpuasan kerja tersebut:
1.
Membuat pekerjaan menjadi menyenangkan
Karyawan
akan merasa puas apabila karyawan tersebut menikmati pekerjaannya daripada
mereka merasa bosan. Walaupun beberapa pekerjaan memang membosankan tetapi
sangat memungkinkan membuat suatu pekerjaan menjadi menyenangkan.
2.
Pemberian gaji yang adil
Karyawan akan merasa tidak puas kalau sistem penggajian di organisasi mereka tidak adil. Jika karyawan merasa sistem penggajian di perusahaan adil, maka mereka akan puas.
Karyawan akan merasa tidak puas kalau sistem penggajian di organisasi mereka tidak adil. Jika karyawan merasa sistem penggajian di perusahaan adil, maka mereka akan puas.
3.
Penempatan Karyawan di tempat yang tepat
Seorang karyawan ditempatkan pada pekerjaannya yang sesuai dengan kemampuan, dan personality mereka. Hal ini dapat menimbulkan kepuasan kerja bagi karyawan tersebut karena dapat mengembangkan dan menggunakan kemampuan yang sesuai dengan personality dan pekerjaannya.
Seorang karyawan ditempatkan pada pekerjaannya yang sesuai dengan kemampuan, dan personality mereka. Hal ini dapat menimbulkan kepuasan kerja bagi karyawan tersebut karena dapat mengembangkan dan menggunakan kemampuan yang sesuai dengan personality dan pekerjaannya.
4.
Menghindari kebosanan dalam pengulangan pekerjaan
Banyak orang ingin menemukan sedikit kepuasan dalam melaksanakan pekerjaan yang berulang-ulang dan membosankan. Dalam two-factor theory, karyawan akan merasa lebih puas apabila diperbolehkan melakukan tugasnya dengan caranya sendiri.
Banyak orang ingin menemukan sedikit kepuasan dalam melaksanakan pekerjaan yang berulang-ulang dan membosankan. Dalam two-factor theory, karyawan akan merasa lebih puas apabila diperbolehkan melakukan tugasnya dengan caranya sendiri.
F. Bagaimana Karyawan Dapat
Mengungkapkan Ketidakpuasan
Ketidakpuasan karyawan dapat diungkapkan dengan sejumlah cara. Misalnya
daripada Berhenti, karyawan dapat mengeluh, tidak patuh, mencuri milik
organisasi, atau mengelakkan sebagian dari tanggung jawab kepada mereka.
Berikut ini adalah contoh respon yang biasa diungkapkan karyawan jika mereka
merasa tidak puas:
1. Exit, perilaku yang mengarah untuk meninggalkan
organisasi, mecakup pencarian suatu posisi baru maupun
meminta berhenti.
2. Suara (Voice), dengan aktif dan konstruktif mencoba memperbaiki
kondisi. Mencakup saran, perbaikan, membahas
problem-problem dengan atasan, dan beberapa
bentuk kegiatan serikat buruh.
3. Kesetiaan (Loyality), pasif tetapi optimistis
menunggu membaiknya kondisi.
Mencakup berbicara membela organisasi menghadapi
kritik luar dan mempercayai organisasi dan manajemennya
untuk “melakukan hal yang tepat”.
4. Pengabaian (Neglect), secara pasif membiarkan
kondisi memburuk, temasuk kemangkiran atau datang
terlambat secara kronis, upaya yang dikurangi, dan
tingkat kekeliruan yang meningkat.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kepuasan kerja didalam pekerjaan adalah
kepuasan kerja yang dinikmati dalam pekerjaan dengan memperoleh pujian hasil
kerja, penempatan, perlakuan, peralatan, dan suasana kerja yang baik. Karyawan
yang lebih suka menikmati kepusan kerja dalam pekerjaan akan lebih mengutamakan
pekerjaannya daripada balas jasa walaupun balas jasa itu penting.
D.
Saran
Dalam sebuah perusahaan untuk meningkatkan produktivitas
kerja dan meningkatkan citra perusahaan, sebaiknya pekerja diberikan
pengahargaan agar pekerja dapat termotivasi dalam melakukan pekerjaannya.
Sehigga pekerja yang memiliki motivasi tinggi dalam bekerja, akan memiliki rasa
kepuasan kerja dalam melakukan pekerjaannya.
DAFTAR PUSTAKA
As'ad, Muhammad. 1999. Psikologi Industri edisi
keempat. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta.
Handoko, Hani. 2001. Manajemen Personalia dan
Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: BPFE Jogja.
Haslam, Alexander, S. 2004. Psychology Organization : The Social Identity Approach (Second
Edition). London. SAGE Publications.
Luthans, Fred. 2006. Prilaku
Organisasi edisi 10. Yogyakarta: ANDI Yogyakarta.
Setiawan, Ivan Aris dan imam Ghozali.
2006. Akuntansi Keperilakuan. Semarang: Badan Penerbit Universitas
Diponegoro.
Sutrisno, Edy. 2009. Manajemen
Sumber Daya Manusia. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar